JENIS CAIRAN KRISTALOID PDF

jenis jenis CAIRAN Uploaded by. anon_ · hipotonik hipertonik. Uploaded by. anon_ · hipotonik Uploaded by. gelatin. albumin Buatan: dextran L. Cairan koloid Alami: plasma. JENIS CAIRAN RESUSITASI 1. strach. Cairan kristaloid a) Asering (Ringer asetat) b). Cairan kristaloid a) Asering (Ringer asetat) b) Ringer laktat c) Na Cl 0. albumin Buatan: dextran L. 3. n. JENIS CAIRAN RESUSITASI % 2.

Author: Tomuro Yozshuzshura
Country: Greece
Language: English (Spanish)
Genre: Sex
Published (Last): 5 November 2013
Pages: 212
PDF File Size: 12.23 Mb
ePub File Size: 16.95 Mb
ISBN: 773-3-64881-585-9
Downloads: 9056
Price: Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader: Shasida

Terapi cairan intravena cairan infus merupakan intervensi yang paling umum di lakukan pada fase akut untuk pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit RS.

Penggunaan cairan infus pertama kali digunakan ketika epidemik kolera pada awal abad ke silam oleh dr. Dengan cairan hipotonik nonsteril yang digunakan saat itu, Dr.

CDK Edisi 270 – Neurologi

Latta dapat mencegah terjadinya dehidrasi dan syok hipovolemik pada pasien kolera yang menjalani perawatan di RS. Terapi cairan digunakan untuk mengembalikan hemodinamik, seperti tekanan darah dan perfusi jaringan, serta mencegah dehidrasi dan syok.

Pada saat ini terdapat banyak sekali jenis cairan infus yang tersedia yang digunakan berdasarkan indikasi dan diperlukan kompetensi spesialis untuk menentukan efikasi dan keamanan dari terapi cairan berdasarkan dari indikasi dan jenis cairan infus yang digunakan.

Beberapa dekade terahir, banyak studi terkait efek dari penggunaan terapi cairan yang menilai efikasi dan keamanan dari sebuah jenis cairan yang digunakan untuk resusitasi pada pasien dengan penyakit kritis. Studi-studi yang telah dilakukan tersebut memberikan gambaran yang cukup jelas terkait jenis dan dosis terapi cairan yang perlu diberikan dan dapat digunakan sebagai resusitasi pada fase akut untuk memberikan efek klinis dan outcome yang lebih baik untuk pasien.

Dosis dari terapi cairan Sebagai pendahuluan, terapi cairan intravena IV merupakan intervensi yang umum dan merupakan intervensi awal yang paling penting dalam resusitasi pada pasien fase akut. Konsep penting dalam menentukan dosis terapi cairan pada pasien dengan penyakit kritis adalah evaluasi aktif terhadap jumlah cairan yang hilang dan reevaluasi secara berulang terkait kebutuhan untuk menunjang kestabilan hemodinamik.

Target endpoint yang optimal pada terapi cairan untuk resusitasi masih kontroversial sampai saat ini. Data terbaru menunjukkan parameter statis seperti ambang CVP central venous pressureyang dimana direkomendasikan dalam tatalaksana Surviving Sepsi Campaign, tidak dapat dikaitkan langsung dengan perbaikan volume intravaskuler dan perbaikan penghantaran oksigen ke jaringan, sehingga dapat dikaitkan dengan memburuknya outcome.

Selain daripada itu, penilaian parameter hemodinamik fungsional, seperti variasi stroke volume, variasi tekanan nadi, perubahan cardiac output yang dikaitkan dengan pergerakan kaki pasif, perubahan pada end-tidal CO2 dapat memprediksi respons hemodinamik terhadap fluid loading dengan lebih baik, serta parameter-parameter dinamik tersebut dinilai lebih superior dibandingkan dengan parameter tekanan darah, CVP, dan urine output. Terlebih lagi, ketika melakukan resusitasi pada pasien dengan penyakit kritis, yang dimana tidak semua pasien dengan penyakit kritis memiliki diagnosis dan respons terhadap terapi cairan yang sama ketika penerimaan pertama di RS admissionsehingga bersifat heterogenus.

Dengan hanya penggunaan parameter seperti tekanan darah dan urine ouput saja, umumnya dengan penggunaan parameter ini, pasien tersebut akan dapat menerima jumlah cairan yang besar, khususnya dengan penggunaan cairan koloid, seperti golongan HES hydroxyethyl starch dikaitkan dengan toksisitas.

  ENDURANCE JACK KILBORN PDF

Pemberian terapi cairan secara bolus pada pasien dengan penyakit kritis tanpa di dasari dengan penilaian parameter cqiran fungsional dapat dikaitkan dengan dekompensasi kordis dan outcome yang buruk.

Oleh karena itu, terapi cairan, khususnya pada pasien dengan penyakit kritis, sebaiknya bersifat individual yang menghubungkan antara parameter hemodinamik fungsional, dan tidak hanya berpegang pada end-point dari parameter umum, seperti tekanan darah dan urine output. Tipe terapi cairan Pada sebuah dosis terapi cairan yang diberikan, toksisitas berhubungan dengan jenis dan komposisi dari cairan tersebut, penerimaan, dan fisiologi dari pasien itu sendiri.

Kedua parameter yang berhubungan dengan pasien dan komposisi dari produk yang akan digunakan merupakan parameter yang penting untuk dipertimbangkan sebelum memilih dan menggunakan sebuah terapi cairan. Perdebatan masih terjadi sampai saat ini yang membandingkan antara risk and benefit dari penggunaan cairan kristaloid dan koloid. Awal mulanya, semasa perang dunia kedua, fractionated albumin dari sapi adalah jenis koloid yang digunakan pertama kali untuk resusitasi.

Setelah itu, dengan berkembangnya dairan, koloid buatan syntheticseperti gelatin dan HES, tersedia sebagai salah satu alternatif kristalodi albumin dengan keunggulan kristalloid infeksi akibat penggunaan produk darah manusia yang minimal, perbaikan reologi darah dan peredarah mikrovaskuler, serta modulasi agregasi neutrofil.

Pada tahun terdapat sebuah tinjauan sistematik yang dikeluarkan menyebutkan bahwa kirstaloid dari human albumin meningkatkan angka mortalitas. Dalam tinjauan tersebut disebutkan 1 dari setiap 17 pasien yang diterapi dengan human albumin meninggal dunia. Oleh karena tinjauan ini, perdebatan antara penggunaan kristaloid dan koloid semakin meningkat, khususnya pada penggunaan di ICU intensive care unit.

Beberapa studi juga menitikberatkan penggunaan koloid, khususnya HES, pada pasien dengan penyakit kritis yang dibandingkan dengan kristaloid. Cairan yang mengandung HES menunjukkan dapat menurunkan respons inflamasi, meringankan disfungsi barrier endotel dan kebocoran vaskuler, serta mempertahankan fungsi barrier usus.

Selain daripada itu, beberapa studi kecil juga menunjukkan penggunaan cairan HES dapat memperbaiki mikrosirkulasi pada pasien sepsis lebih baik dan mencapai hemodinamik yang stabil secara lebih cepat jika dibandingkan dengan cairan kristaloid. Akan tetapi, HES dikaitkan memiliki dampak yang sangat besar terhadap gangguan dari fungsi ginjal.

Pada sebuah studi besar terbaru disebutkan bahwa penggunaan produk yang mengandung HES pada pasien dengan penyakit kritis dikaitkan dengan peningkatan gagal ginjal dan mortalitas. Oleh karena itu, EMA European Medicine Agency PRAC Pharmacovigilance Risk Assessment Committee mengeluarkan sebuah warning pada Nenis bahwa HES tidak lagi direkomendasikan untuk digunakan pada pasien dengan sepsis atau luka bakar atau penyakit kritis karena dikaitkan dengan peningkatan risiko gagal ginjal dan mortalitas.

Akan tetapi, HES masih dapat digunakan sebagai terapi hipovolemia lainnya.

KRISTALOID FAZIL ISLAM

Hal penting lainnya yang umum menjadi pertimbangan pemilihan jenis cairan adalah elektrolit yang terkandung, khususnya muatan ion klorida dan SID strong ion difference yang dapat berdampak pada komplikasi seperti asidosis. Dalam beberapa studi menyebutkan bahwa dalam resusitasi, penggunaan regimen restriksi klorida penggunaan dengan cairan dengan muatan ion klorida yang lebih kecil di nilai lebih bermanfaat secara klinis.

  HDC-TM700 MANUAL PDF

Akan tetapi kontroversi berikutnya adalah resusitasi volume besar dengan menggunakan cairan kristaloid seimbang juga mampu menimbulkan asidosis metabolik ringan yang disebabkan oleh hemodilusi dari asam lemah dan perubahan pada SID. Tantangan lain dari penggunaan kristaloid seimbang adalah cairan tersebut mengandung konsentrasi kalsium yang rendah dan elektrolit tambahan lainnya yang secara teoritis dapat meningkatkan risiko presipitasi dan endapan pada penggunaan bersamaan dengan produk darah jika dibandingkan dengan normal saline.

Studi terbaru menunjukkan cairan dengan kandungan klorida yang tinggi dapat menyebabkan vasokonstriksi pada ginjal, menurunkan filtrasi glomerulus, peningkatan akumulasi cairan pada ruang intersisiel, serta peningkatan risiko AKI acute kidney injury dan penggunaan dari RRT renal replacement therapy. Jadi secara umum, terapi cairan merupakan dasar utama dari intervensi awal terapi resusitasi pada pasien yang mendapatkan perawatan di rumah sakit, khususnya pasien dengan penyakit kritis.

Pemilihan terapi cairan yang tepat cqiran disesuaikan dengan kondisi pasien yang bervariasi dan sebaiknya bersifat individual. Penilaian parameter hemodinamik fungsional juga perlu diperhatikan, khususnya iristaloid resusitasi pasien dengan penyakit kritis, selain daripada parameter generik seperti tekanan darah dan urine output. Kontroversi terkait risk and cairzn antara koloid dan kristaloid masih belum dapat diselesaikan oleh karena regimen terapi cairan yang berbeda pada setiap kondisi pasien dan memiliki variabel variasi yang sangat besar.

Controversies in fluid therapy: Type, dose and toxicity. World J Crit Care Med.

Systematic review of effects on mortality and treatment with renal replacement therapy. Association of hydroxyethyl starch administration with mortality and acute kidney injury in critically ill patients requiring volume resuscitation: A systematic review and meta-analysis. Paclitaxel causes degeneration of both central and peripheral axon branches of dorsal root ganglia in mice.

Toxicity and quality of life after adjuvant chemoradiotherapy versus radiotherapy alone for women with high-risk endometrial cancer PORTEC Kalbemed does not provide medical advice, diagnosis or treatment.

UserAdmin Nov 08, UserAdmin Nov 06, Octalbin UserAdmin Aug 22, Vincristine Kalbe UserAdmin Aug 13, Induxin UserAdmin Aug 22, IV UserAdmin Jul 29, Urdahex UserAdmin Aug 12, Amlodipine UserAdmin Apr 06, Irbesartan JCH Aug 11, Cisplatin UserAdmin May 05, Kontroversi dalam Terapi Cairan: Dosis dan Jenis Cairan.

Oleh Admin Kalbe Medical pada June 06, Dosis dan Jenis Cairan Terapi cairan intravena cairan infus merupakan intervensi yang paling umum di lakukan pada fase akut untuk pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit RS.

Probiotik merupakan salah satu terapi yang efektif untuk pencegahan necrotizing enterocolitis NEC. Saat lahir, saluran cerna bayi steril. Salah satu penjelasan yang d Probiotik Memberikan Manfaat Positif dalam Menurunkan Berat Badan Mikrobiota dianggap berperan dalam vairan dan penyimpanan energi. Meskipun diet juga berpengaruh terhadap komposisi mikrobiota usus, bakteri ters Only registered users may post comments.